SALATIGA Komsi C DPRD Jateng mengapresiasi kinerja BKK Kota Salatiga yang terus bertumbuh average di atas 10 persen selama empat tahun terakhir. Dalam dialog, anggota Komisi C Ahmad Ridwan yang memimpin kunjungan kerja mewanti-wanti pengurus BKK agar menjaga, mempertahankan dan syukur-syukur biasa meningkatkan kinerjanya.

“Jaman seperti sekarang harus waspada, pengawasan harus dilaksanakan secara berkelanjutan,  jangan sampai kreditnya banyak yang bermasalah dan kemudian merugi,” saran politikus PDI Perjuangan itu.

Senada, anggota Komisi C Muhammad Rodhi menambahkan, harus tetap pegang teguh prinsip kehati-hatian, jangan sampai tingkat kredit bermasalahnya naik lagi dari posisi per November 2018 sebesar 18,9 persen.

Baca : Tinjauan ke Titik 0 Kilometer Indonesia

Baca : Kebakaran Pasar legi, Hidran Air Tak Berfungsi Maksimal

Sedangkan anggota Komisi C Mustholih menanyakan berapa tahun pengelola dapat menurunkan kredit bermasalah pada level di bawah 10  persen, “dengan kondisi faktual saat ini baik personil maupun sarpras yang ada,” kata politikus PAN itu.

WhatsApp Image 2018-12-12 at 04.44.54 (1)

Namun anggota Komisi C Maria Tri Mangesti berpesan, agar laporan disusun secara lengkap, masing-masing ada indikator keuangannya. “Jangan sampai ada data rasio keunangannya tapi tidak disertai indikator keuangan,” tutur politikus PDI Perjuangan itu.

Menanggapi Komisi C, Direktur BKK Agus Joko Susilo antara lain menjelaskan, tingkat kredit bermasalah bisa diturunkan di bawah 10 persen paling cepat dua tahun ke depan.

BKK Sidorejo Kota Salatiga yang didirikan dengan modal dasar Rp 15 miliar itu terus bertumbuh cukup baik. Secara tahunan asetnya tumbuh 18% pada tahun 2016 namun setahun kemudian hanya 1% (2017). Sedangkan labanya periode sama berumbuh minus -66% dan mulai bangkit tahun berikutny 2017 sebesar 108%. Per November tahun 2018 ini tercatat asetnya sebesar Rp 40,6 miliar atau meningkat 16% dibanding 2017, dengan raihan laba sebanyak Rp 732,4 juta (naik 12%).

bpr-salatiga1

Rasio keuangannya cukup sehat,  kecukupan modalnya tahun ini 24,5%, kemampuan mencetak laba (rentabilitas) ditunjukan tingkat pengembalian asetnya 1,92% dan beaya operasionalnya masih wajar di angka 84,14% maupun cash rasionya 32,4%. Namun yang aneh tahun 2016 di mana rasio kecukupan modalnya bagus (38,3%), NPL 16,3% tapi justru tingkat pengembalian asetnya minus -0,71% dan labanya anjlok 66% dibanding tahun sebelumnya.

Simak : M Rodhi Sepakat Dipenuhinya Penambahan Fasilitas Asrama Haji Donohudan

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *